Solusi atas segala permasalahan adalah BERSYUKUR.
Tidak ada alasan yang membuat untuk tidak bersyukur. Bagaimana pun Mas Bambang.
Berkaca dari orang-orang terdekat.
Mbak Vivi terlihat sangat menyenangkan, bisa touring setidaknya sebulan duakali. Namun sadarlah, Mas bukannya tidak ingin mengajak have fun menikmati alam. Mas lebih memikirkan persiapan dan mematangkan masa depan. Sebenarnya hampir tiap bulan aku juga touring sih, perjuangan buat ketemu dari Surabaya Jakarta kan juga perjalanan, naik pesawat lagi. Dan, Kondisi rumah tangga Mbak Vivi dan rumah tangga ku bersama Mas berbeda. Mbak Vivi dan Mas Afan sama-sama bekerja, sedangkan suamiku sangat baik dengan hanya mewajibkan ku menjadi istri seutuhnya dan fokus kuliah. ALHAMDULILLAH..
Adek Ilil dan Adek Oji begitu bahagianya bisa ketemu tiap hari. Yang harus selalu di ingat adalah LDR bukan keinginan Mas atau kemauan ku. Terpisah jarak adalah sebuah keterpaksaan. Sabar. Kan lebih seru. Ketemu-ketemunya kangen-kangenan, sayang-sayangan. Berasa bulan madu tiap bulan. Mas selalu memberikan ku yang terbaik. Serumit apapun diskusi sebelum berangkat, pasti ujung-ujungnya tetap pesawat yang akan mengantarkan. Setipis apapun tabungan, selalu hotel yang menjadi tempat beristirahat. Sebanyak apapun pengeluaran, tidak pernah terlewat untuk shopping atau bertanya "Pengen beli apa, sayang? Apa yang belum punya?"
ALHAMDULILLAH..
Adek Reni dan Adek Wandi tampak lengkap, apalagi sudah rumah sendiri. Sisi positifnya kita bisa meniru gaya hidupnya Adek Reni yang gemar menabung. Memang, tantangan dan keadaan setiap rumah tangga itu berbeda-beda. Bagiku dan Mas, sebagus semewah seindah apapun rumah orang tua, jika sudah rumah tangga lebih bagus dan baik atap sendiri sekalipun mengontrak. Mas mewujudkan harapan ku, menjadikanku satu-satunya Ratu di atap sendiri. Tidak ada perasaan tidak enak atau sungkan terhadap ibu mertua atau saudara ipar. Dan lagi-lagi semata karena Rahman Rahiim Nya, di anugerahi kontrakan yang sungguh Masya Allah. ALHAMDULILLAH..
Dek Fany dan Dek Toni terlihat adem sekali. Sama-sama pahlawan tanpa tanda jasa. Suamiku juga tak kalah ademnya. Sangat mendukung ku. Tidak banyak laki-laki yang mau berkompromi soal aktivitas di ranjang. Saat-saat puncak orgasme, aku minta memotongnya seketika. Alasannya : "aku masih kuliah, jadi ibunya di tunda dulu, tapi aku takut pakai KB soalnya banyak efek buruknya, Mas." Tanpa banyak alasan, Mas mengabulkan permintaan ku. ALHAMDULILLAH..
Aku sangat sangat bangga terhadap suamiku. Baik Mb Vivi Mas Afan, Adek Ilil Adek Oji, atau Adek Reni Adek Wandi, Dek Fany Dek Toni, dari sebelum menikah sudah di "subsidi" sama orang tua mereka, bahkan hingga menikah. Kontrak rumah, dikontrakkan ortu. Perabot rumah, dibelikan ortu. Beli Tanah, tabungan ortu. Tempat tinggal, rumah ortu. Susu Pampers, masih ortu. Bahkan sekedar makan atau cuci baju, ortu lagi.
Sedangkan suamiku?? Masya Allah, Allahu Akbar. Membahagiakanku seutuhnya dari jerih payah keringatnya sendiri. Perjuangan dan pengorbanan yang tak ternilai. ALHAMDULILLAH..
Aku tidak ingin lagi mendengar kata-kata orang bahwa hanya Mas yang beruntung menikahiku karena aku tidak pernah pacaran, tidak macam-macam, pintar, ngerti, rajin, masih muda lagi, sedangkan aku menikah Mas berarti buntung. Na'udzubillah. Itu salah, yang benar adalah Aku juga sangat sangat beruntung menikah dan menjalani suka duka hidup bersama Mas.
Demi Allah Mas, pertimbangan ku menerima pinangan Mas semata karena apa yang tersimpan di hatimu. Aku menikah dengan mu, bukan jabatan rupa atau apa yang kamu punya. Lillahi Ta'ala.
Mas lebih memberikan ku ruang untuk menjadi diri sendiri.
Mas tidak pernah menuntut yang neko-neko.
Mas selalu berusaha memberikan ku yang terbaik.
ALHAMDULILLAH.. ALHAMDULILLAH.. ALHAMDULILLAH.. ALLAHU AKBAR.
Komentar
Posting Komentar